Bahagia Menjadi Dosen di UMP Featured

Dosen Fakultas Psikologi UMP, Dra. Dyah Siti Septiningsih S.Psi MA, menjadi dosen di UMP sejak 1983 sewaktu masih dalam bentuk Institut Kegururan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Purwokerto. Perempuan kelahiran Purbalingga, 23 September 1958 itu mengungkapkan ketertarikannya menjadi seorang dosen. Baginya, dosen merupakan profesi yang membahagiakan jiwa.
“Pada tahun 1982 saya mengikuti tes CPNS di Undip, dan alhamdulillah dinyatakan lulus. Akan tetapi keinginan menjadi dosen merupakan keinginan sendiri. Karena bagi saya menjadi seorang dosen itu profesi yang membahagian jiwa, menghantarkan mahasiswa untuk bisa bermanfaat di masyarakat sesuai bidangnya,” kata wanita yang akrab dipanggil Dyah Ning.
Dyah Ning mengaku bersyukur atas kesempatan mengabdi menjadi dosen di UMP, lantaran UMP menjadi perguruan tinggi  yang memiliki perhatian agama yang bagus.
“Mengabdi di UMP menjadi hal yang saya syukuri, karena UMP yang memiliki muatan agama yang lebih terasa rohnya. Apalagi sekarang memiliki visi unggul modern dan islami,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya menjadi seorang dosen yang dituntut untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat, Dyah masih bisa berbagi waktu dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu.
“Sebagai istri bagi suami, sebagai ibu bagi anak-anaknya dan sebagai dosen, tentu memiliki seni yang berbeda sehingga tidak ada masalah dalam pembagian waktu. Waktu 24 jam itu, saya upayakan berperan secaar proporsional sesuai fungsi. Untuk keluarga yang itu merupakan fungsi dan tugas kodrati saya jalankan dengan seindah mungkin. Sementara tugas profesi sebagai dosen kan sudah ada jadwal dan aturan-aturan resmi yang justru lebih mudah dijalankan. Jadi saya sinergikan peran-peran itu dengan enjoy,” Kata Dyah Ning yang juga Wakil Dekan 1 Bidang Akademik tahun 2016-2017.
Dalam menjalani kehidupan tentu ada motivasi yang melatarbelakangi sehingga membuat seorang tetap memiliki semangat, begitu juga dengan Dyah Ning.
“Hidup yang sebenarnya adalah masa yang akan datang. Oleh sebab itu, saya ingin mencapainya dengan baik. Itulah sumber motivasi saya. Selain itu, anak-anak adalah kekuatan saya untuk tetap bersemangat. Hidup adalah role model, kalau ibunya tidak memiliki semangat, bukan tidak mungkin anak-anak tidak memiliki figur untuk menapaki hidup,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Dyah Ning berpesan kepada para perempuan di Indonesia.  Di tengah banyaknya peran yang harus dijalani, baik yang bersifat kodrati maupun publik. Maka para perempuan secara cerdas bisa mensinergikan berbagai peran itu dengan baik.
“Perempuan terutama yang telah menjadi ibu harus bisa memerankan diri dengan baik sesuai peran yang sedang dilakoninnya,” ungkapnya.
Khususnya calon ibu, ada hal yang ingin disampaikan Dyah Ning, Menurutnya, perubahan status dari gadis menjadi istri, dari istri menjadi ibu biasanya akan menimbulkan tekanan. Oleh karena itu, perlu sedikit belajar bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik. Bisa dari lingkungan keluarganya sendiri, dari keluarga lain yang menjadi figur contoh, dan di era kekinian banyak sekali bacaan-bacaan dari berbagai sumber yang tersedia.
“Yang jauh lebih penting sebetulnya hidup itu adalah sebuah tahapan. Jadi bersiaplah memasuki tahapan-tahapan itu dengan baik dan penuh makna,” tandasnya. (asr/sls)

000
Read 201 times Last modified on Saturday, 03 February 2018 03:36
Rate this item
(1 Vote)

About Author

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.