Berkiprah di UMP untuk Membangun Almamater

Universitas Muhamamdiyah Purwokerto (UMP) sebagai lembaga pendidikan tinggi terbaik di wilayah Jawa Tengah bagian Barat menyimpan kisah civitas academik yang inspiratif. Pagi ini (19/10/2017) kita akan berkenalan dengan salah satu dosen inspiratif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan(FKIP) UMP. Ia adalah Septi Yulisetiyani, M.Pd, salah satu Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Perempuan yang lahir di Purbalingga itu biasa dipanggil bu Septi.

 

Tahun 2012, ia menyelesaikan masa studi Sarjana (S1) di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMP. Kemudian langsung melanjutkan Program Magister (S2) di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Awal karir ia menjadi dosen bermula pasca wisuda S2 pada tahun 2014, ia mendapat kesempatan mengajar di Universitas Islam Sultan Agung Semarang dan Universitas Pekalongan. Meskipun telah mengabdi di kota besar, tetapi keinginan membangun dan mengabdi di Purwokerto  tidak pernah surut. Keinginan itu terwujud, mulai tahun 2016 beliau kembali ke almamaternya sebagai dosen PBSI UMP.

 

Sejak kecil ia ingin menjadi guru. Baginya menjadi guru itu suatu hal yang menyenangkan. “Menjadi seorang guru itu, ibaratnya kita bisa membagi ilmu sambil beribadah dan pahalanya tidak akan putus, itu bayangan sederhana saya.” ungkapnya. Berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, cita-cita bu Septi pun berkembang menjadi dosen. Maka selepas menyelesaikan S1, ia melanjutkan studi S2 dan sekarang tengah menyelesaikan studi S3-nya di UNS. Tentang kesukaannya kepada sastra dimulai sejak bangku SMA, kegemarannya membaca karya sastra khususnya cerpen.

 

Baginya belajar sastra itu belajar banyak hal, karena ketika membaca karya sastra tidak saja belajar bahasa tetapi juga belajar hal lain sesuai dengan apa yang ada di karya sastra itu. “Dengan membaca karya sastra, saya bisa belajar ekonomi, kewirausahaan, filsafat, sosiologi dll,” terangnya. Dalam menjalani peran sebagai seorang pendidik, bu Septi mempunyai prinsip. Baginya menjadi seorang pendidik itu bisa menambah pengetahuan umum disamping itu juga berupaya menumbuhkan kreatifitas pada mahasiswa. Selain itu, ia kerap di tengah proses mengajarnya memberikan motivasi mahasiswanya untuk berkarya.

“Apa yang saya bagi ke mahasiswa berdasarkan apa yang saya alami ketika saya menjadi mahasiswa sampai sekarang saya mendapat amanah menjadi dosen.” ungkapnya. Semasa menjadi mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah satu prestasi yang ia raih saat menjadi mahasiswa adalah juara 1 tingkat Universitas dalam bentuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang kemudian lolos didanai oleh Kemenristek Dikti.

 

Bersama teman-teman di PBSI,  ia membentuk Komunitas Penulis Bacaan Anak, Taman Pelangi yang mana anggotanya adalah mahasiswa PBSI UMP dari berbagai angkatan yang aktif belajar menulis. Hasil interaksinya dengan dunia sastra telah terbukukan dalam beberapa karya, diantara Antologi Cerita Anak, Negeri Kejujuran. Novel Anak Putri Pudica dan kumpulan cerpen bertema cinta lingkungan Moreli Penyelamat Bumi serta banyak puisi, cerpen, artikel yang dimuat di media masa.

 

Apa yang telah diperolehnya, tidak lepas dari pengaruh orang-orang disekitarnya. Menurutnya semua tokoh itu bisa dipetik inspirasinya “Orang-orang disekitar saya, mereka punya sisi tersendiri yang bisa saya petik hal baiknya sehingga itu bisa menjadi inspirasi buat saya.” Jelasnya.

 

Tetapi baginya, tokoh inspirasi utama adalah seorang ibu. “Orang pertama yang selalu memotivasi adalah Ibu” ungkapnya. Di tengah kesibukan, penggemar karya-karya Seno Aji Gumira dan Dewi Lestari itu masih menyempatkan waktu untuk membaca. Baginya membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. “Saya harus membaca, karena dengan membaca saya bisa bercerita kepada mahasiswa” ungkapnya.

 

Ia berpesan kepada mahasiswanya untuk terus membaca sebagai bekal berkarya. “Membacalah agar kita memiliki pengetahuan yang cukup , bekal kita berkarya. Setelah membaca, lanjutlah dengan menulis sebabnya menulis adalah puncak intelektualitas. Dengan menulis kita bisa meraih cita-cita,” pesannya. (asr/sls).

000
Read 197 times Last modified on Saturday, 03 February 2018 03:38
Rate this item
(0 votes)

About Author

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.